Tubuhku terkesan ramping seperti papan selancar. Bahkan, dulu, aku sempat ditembak oleh murid baru saat aku mengajarkan pramuka. Yah, aku maklumi karna setiap kali aku sekolah, aku suka sekali memakai celana ketimbang rok. Jadi, semua orang berfikir kalau aku ini memang anak lelaki.

Oh ya ampun. Mengingat kejadian itu membuatku malu sendiri. Apalagi saat itu Shawn ada. Tertawa terbahak-bahak saat anak baru itu menembakku tepat di tengah lapangan.

Duduk di atap sekolah dengan angin semilir, memang tempat paling oke untuk mencari inspirasi. Apalagi kalau dengan musik mellow yang ku putar dari ponselku. Terdiam, sambil memikirkan segala perasaan yang ku miliki untuk Shawn. Perasaan suka, sedih, kecewa. Semuanya seakan berputar dikepalaku untuk segera ku tulis.

Sejenak aku terdiam. Melamunkan bagaimana hatiku ini bisa merasakan sebuah cinta yang dalam hanya saat melihatnya. Kata demi kata ku tuliskan dalam secarik kertas yang diberikan guruku tadi. Menuliskan setiap hal yang ku rasakan selama aku mencintai sosok Shawn dalam diam.

Mencintainya secara diam-diam hampir 2 tahun lebih. Aku tak pernah memikirkan perasaanku untuk ku perlihatkan. Bagiku, bersama dengan Shawn. Detik-detik bersamanya dalam canda dan tawa adalah anugrah yang begitu indah yang pernah aku rasakan. Sosoknya yang selalu ada dipikiranku membuatku gila.

Bagikan :