“Aku harap kalian cepat menikah!” seru Ren.

“Tentu saja kami akan menikah secepatnya!” sahut Kenichi sambil menyuapkan steak sapi ke mulutnya.

“Kalian orang dewasa, kalau makan itu jangan berisik, ya! Ini bukan acara reuni tapi makan malam. Aku tidak ingin acara sakral ini berisik!” Yukari yang duduk di hadapan Kenichi melototi kakaknya.

Ren menatap Yukari dan tersenyum.“Yuka-chan… kami sangat menghormati kebiasaanmu yang selalu tenang kalau makan. Tapi, kita ini berbeda. Manusia kan berbeda-beda.” Timpal Ren dengan gaya pelukisnya yang berlebihan.

Yukari tidak menanggapi ucapan Ren. Ia hanya menggerutu dalam hati seraya menatap Mikasa dan Ren bergantian dengan mimik wajahnya yang tak terbaca. Meskipun sudah menikah, tetap saja pelukis yang satu ini masih norak. Aku salut sama Kak Mikasa yang sabar menghadapi pelukis ini. Batin Yukari.

“Yukari-chan… dulu, aku juga seperti itu! Dulu aku akan tenang dan fokus kalau makan. Aku juga menganggap acara makan itu acara yang sakral dan terhormat. Tapi sekarang berbeda, karena kakakmu ini kalau makan selalu bersuara,” keluh Fuko seraya melirik ke sampingnya.

Fuko menghela napas. “Hhh… jadinya aku terbawa tidak tenang dan selalu berbicara pada Kenichi kalau makan bersuara itu tidak sopan. Tapi tetap saja, aku sudah mengomel sepanjang sungai Nil pun, Kenichi sepertinya tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya itu.” Fuko dengan geli menatap Kenichi yang memakan steak-nya sambil bersuara.

Karena tersinggung, Kenichi mengalihkan pandangannya dari steak dan menatap Fuko dengan wajah datar. Fuko malah tersenyum geli melihat tingkah laku Kenichi yang seperti anak kecil.

Bagikan :