“Aku makan bersuara untuk menikmati makananku dengan sepenuh hati. Menikmati setiap kunyahan di mulutku. Makanan hanya enak saat di mulut. Sayang, kan, kalau kita tidak menikmati makanan yang enak dan mahal.” Kenichi berusaha membela diri.

Semua orang tergelak mendengar pengakuan Kenichi.

“Hhh, sok puitis!” sewot Yukari dengan wajah datarnya.

“Bagus dong kalau puitis! Kita jadi bisa mengolah bahasa dengan indah. Dengan itu, kita juga mendukung program pemerintah untuk membiasakan mengolah bahasa dengan sebaik-baiknya. Aku dukung Kak Kenichi! Sebagai seorang penulis, aku sangat bangga pada kak Kenichi. Ahahahahha…” Rin tergelak dengan ucapannya sendiri.

Semua orang tergelak lagi mendengar tafsiran Rin.

“Astaga, Rin! Kau pandai sekali menyelamatkan orang lain yang disudutkan! Aku iri pada Ren. Aku malah ditakdirkan mempunyai adik wanita yang sangat aneh….” Kenichi melirik Yukari yang memasang wajah datar plus cemberut.

“Sudahlah… kita lanjutkan acara makan malam kita!” Fuko berusaha menenangkan suasana.

“Sungguh pembicaraan yang tiada arti di malam ini.” Sahut Mikasa dengan ketus. Semua orang menatap Mikasa dengan ekspresi wajah yang datar. Mika hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.

***

“Kita lewat jalan alternatif saja, lebih cepat!” tawar Kenichi pada Fuko di dalam mobil saat mereka hendak pulang.

Fuko mengencangkan sabuk pengamannya. Lalu ia menoleh pada Kenichi yang duduk di balik kemudi. “Ya, lebih cepat lebih baik!” sahut Fuko.

Bagikan :