“Mm!” Kenichi mengangguk. Lalu, ia menginjak pedal gasnya dan mobil Kenichi pun melaju di tengah gelap gulitanya malam yang sirna ditelan cahaya lampu-lampu jalan yang remang dan membuat suasana menjadi romantis.

Fuko menoleh keluar jendela mobil. Wajah Fuko langsung diterpa angin malam yang dingin namun menyejukkan hati dan pikiran. Angin malam tak segan-segan mengibarkan rambut Fuko yang digerai. Sebagian rambutnya menerpa wajah Fuko. Spontan jari-jarinya yang manis menyapu rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan ia selipkan rambutnya itu di balik telinga.

Fuko mendongakkan kepalanya menatap langit lalu tersenyum. Malam ini langit begitu indah dengan taburan bintang yang gemerlap. Ditambah dengan cerahnya benda berbentuk bulat putih yang dinamakan bulan, dengan rapinya menempel di langit malam yang hitam nan elegan.

Fuko sangat bahagia hari ini. Pertama, dia bertunangan dengan lelaki yang dicintainya tadi siang. Kedua, akhirnya Fuko mempunyai waktu untuk makan malam bersama teman dekat dan keluarga Kenichi. Biasanya Fuko sibuk dengan pekerjaannya sebagai model. Dan ketiga, langit begitu mengerti suasana hati Fuko dengan menghadiahkan langit malam yang begitu indah padnya.

Mobil Kenichi membelok masuk ke arah jalan alternatif yang cukup memuat dua  mobil. Jalan ini dapat menempuh waktu satu berbanding dua jarak tempuh di jalan raya dari restoran menuju rumah Fuko. Biasanya Fuko menempuh waktu 20 menit dari rumah ke restoran favoritnya. Dengan jalan ini, Fuko akan sampai 10 menit lebih awal dari biasanya.

***

Bagikan :