BAB 1
Kepala Dingin!

Dari atas atap sebuah gedung yang tak terpakai, cahaya mentari terlihat membentang ke seluruh penjuru kota Sogakuka. Kehangatannya membuat hari-hari setiap orang yang hidup di kota ini menjadi ceria. Di jalan raya terlihat pejalan kaki dan pesepeda tertawa riang menikmati harinya. Karena di Sogakuka dilarang warga Sipil dan Esper menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak seperti mobil ataupun sepeda motor. Dan di sini, di Sogakuka City memiliki kereta api listrik sebagai pembantu sarana perjalanan jauh warganya.

Jauh di perbatasan Kota Sogakuka dan Desa Nara terdapat padang rumput hijau yang begitu indah, tempat bermainnya para kuda dan rusa-rusa liar. Terlihat di bawah Pohon Jati, seorang anak lelaki tengah tiduran menikmti semilir angin di padang rumput itu.

“Aduh….” Terlihat anak laki-laki itu terbangun dari tidurnya yang nyaman. “Hmmm… ternyata mimpi. Kupikir tadi aku memimpikan Nanase. Ckckck dasar mimpi!”

Aku bangkit dari posisi tidurku, duduk melihat ke arah utara di depan pintu masuk Desa Nara, sambil memikirkan sosok seseorang dalam ingatan yang membekas di mimpiku tadi.

BLARRRRRRR… DUARRRRRRRR… DUNGGGGGGGG…

Bagikan :