APA ITU CINTA ?

Bulir-bulir air hujan masih mengalir di kaca jendela, tepat di depan hidungku. Sesekali uap napasku membuat kaca itu menjadi buram. Lirih angin berselimut dingin menyelinap diantara sela-sela kusen kayu menyentuh ringan wajahku, membelai seakan menghibur.

Aku menempelkan pipiku ke kaca yang dingin. Aku menyukainya. Seperti anak kecil, itu kata mas Tyo dulu. Dulu sekali. Aku tersenyum miris, sekilas bayangan kuyuh wajahku terpantul dari kaca oleh bias sinar lampu kamarku.

Aku mengangkat wajahku, mataku kini menatap bulir air hujan yang seakan saling berkejaran. Jari telunjukku menyentuh bulir kedua dari balik kaca, seakan aku bisa mendorongnya untuk mengejar buliran di depannya. Aku tersenyum saat angin membela jagoanku, mengalir cepat lalu menyusul yang terdepan kemudian menghilang dari pandanganku. Angin telah membawanya pergi.

“Mbak…Mbak Vita…tamunya sudah datang…mas Pras dan keluarganya…”
Suara Ratna, asistenku, menarikku kuat kembali ke dunia nyata. Ada pekerjaan besar yang menungguku.

Bagikan :