“Iya Rat. Bentar lagi aku turun.” Jawabku sambil beranjak malas dari tempat duduk empuk di bawah jendela. Aku menghampiri cermin lebar yang terpampang sepanjang lemari bajuku.

Aku menatap diriku, wajah piasku menambah tua wajahku yang diambang senja. Dua tahun lagi aku genap 40 tahun. Perawatan rutin masih belum bisa sempurna melawan takdir sang alam. Aku memulas tipis bedak transparan dan sedikit polesan lipstik berwarna merah bata di bibir tipisku.

Aku mengerjabkan  mataku berkali-kali, mengenyahkan rasa sepat dari sana. Aku tidak mau seorangpun tahu aku menghabiskan tiga jam semalam mengasihani diriku sendiri.

Dengan jepit rambut seadanya kugelung rambut ikal panjangku ke atas, lalu bergegas keluar kamar, menuruni tangga perlahan. Tanganku mencengkram sisi tangga dengan kuat sesekali.

“Ibu Sastro…” aku mendekati seorang wanita tua berkebaya, meraih tangan keriputnya, memberi salam.

Dia menurunkan kacamata tuanya, matanya menatapku tajam. “Kamu ndak lupa hari ini waktunya fitting, tho?”

“Ndak Ibu. Saya sudah siapkan semuanya.” Mataku melirik seluruh ruangan, “calon pengantinnya mana?”

Wanita yang kupanggil Ibu Sastro tidak menjawab pertanyaanku, dia langsung duduk di salah satu sofa di sudut ruangan khusus fitting baju.

Bagikan :