Dia mengeluarkan kipas kayu cendananya yang wangi dan mulai menggerakkan kipasnya dengan anggun. Mataku melirik AC yang masih mendesir nyala. Aku menelan ludahku sendiri.

Suara pintu terbuka membuatku menoleh. Pasangan pengantinnya baru masuk. Mas Prasenohadi Wijaya dan Rara Kusumawardhani. Aku sudah tahu nama sang pengantin pria, nama lengkap pengantin wanita baru kuketahui dari kartu undangan yang aku terima seminggu lalu.

Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu, namun omongan mas Pras terputus begitu saja ketika matanya bersitatap dengan mataku. Aku tiba-tiba merasa seperti orang ketiga yang tidak dikehendaki. Aku seperti obat nyamuk yang menemani dua sejoli memadu kasih.

Aku tersenyum tipis, menghampiri mereka berdua. Menarik tangan Rara masuk mengikuti langkahku.

“Mbak Vita, aku makin deg-deg an…” bisik Rara. Aku tersenyum mahrum padanya. Usianya baru 23 tahun, sedangkan mas Pras sudah 33 tahun. Usianya kuketahui saat kunjungan-kunjungan dia sebelumnya. Tanganku menutup pintu ruangan ganti baju perlahan, mataku masih menangkap tatapan mata mas Pras yang tidak kupahami artinya.

Ratna menyusul masuk membawa setelan kebaya pengantin. Batik bermotif Sido Asih, kupilih untuk pasangan ini agar mereka selalu hidup dalam kasih sayang. Atasan brokat berwarna broken white sebagai padu padannya.

Bagikan :