Aku dan Ratna membantu Rara memakai kebaya itu. Tubuh langsing indahnya membuat hasil rancanganku terlihat semakin sempurna.

“Siap?” tanyaku pada Rara. Dia mengambil napas panjang, pipinya kemerahan oleh…entah. Mungkin rasa terlalu bahagia yang membuncah dalam dadanya.

Aku membuka pintu dengan tangan nyaris tak bertenaga. Setiap hal yang kulakukan hari ini seakan menguras habis tenagaku.

Rara melangkah keluar bak seekor burung merak yang sedang memamerkan bulunya. Tak ada cela dalam penampilannya, kakinya berhiaskan selop mote keperakan.

Ibu Sastro menghentikan gerakan kipasnya, melepaskan kaca matanya, lalu memakainya lagi. Sunggingan senyum di sudut bibirnya memberiku angin segar, dia menyukai hasil pekerjaanku. Sedangkan mas Pras menatap Rara tak berkedip, lalu memandangku sekilas sebelum kembali matanya terpaku pada penampakan dewi kahyangan dihadapannya.

“Mas Pras?” Ratna memanggil mas Pras sambil menunjukkan sebuah kain batik ditangannya.

Mas Pras berdiri, mengambil setelan dari tangan Ratna dan bergegas masuk ke ruang ganti. Dalam beberapa menit mas Pras sudah keluar dengan celana panjang broken white, dibalut batik dan jas pendek senada dengan celana. Dia keluar dengan sedikit kikuk, tersenyum ke arah ibunya yang kini berdiri mendekat pada Pras dan tersenyum lebar.

Bagikan :