Aku menatap mas Pras. Tampan. Tegap. Dengan tinggi diatas 170 senti, berkulit putih, dia sudah mewakili pewujudan para dewa.

Bajunya benar-benar pas di tubuhnya. Aku tahu benar ukurannya.

Mataku menelusuri dari kepala hingga kaki. Kaki! Mas Pras lupa memakai selopnya! Aku menyelinap ke ruang ganti lagi, lalu keluar dengan menenteng alas kakinya.

“Mas Pras lupa selopnya…” kataku lirih, lalu berjongkok meraih kakinya. Saat itulah gelombang perasaanku menerjang begitu kuatnya! Tanganku gemetar mencoba memasangkan selop pengantin di kakinya, tubuhku lunglai, namun kutahan sekuat tenagaku agar tidak terjadi hal memalukan di depan pelanggan bridal-ku.

“Ratna bantu mbak Vita.” Dengan sigap dia merebut selop dari tanganku dan membantu mas Pras memakainya.

Lidahku kelu, aku menengadah, mas Pras menunduk memandangku. Tak ada kata yang terucap, tak ada lagi, sejak mas Pras memutuskan hubungan denganku tiga minggu lalu.

***

“Ibu benar-benar berharap aku bisa menikahi putri temannya…” mas Pras mengucapkan kalimat itu seperti sedang mengatakan cuaca hari ini cerah. Santai, namun dia tidak tahu itu adalah hujaman belati dihatiku.

Bagikan :