Aku menatap dirinya dengan mulut penuh, menatapnya lama, mencoba mengartikan kalimatnya barusan dan mencoba mengontrol emosiku. “Trus apa kata mas Pras?” kejarku, kini menghentikan suapan nasi gorengku yang terasa sepah seperti gabah dilidahku. Suasana restauran yang tadinya membawaku ke suasana ceria, kini mereka seakan membeku mendadak, hanya berupa diorama di mataku. Duniaku kini hanya ada aku dan mas Pras.

Wacana dia dijodohkan dengan putri seorang pengusaha di kota lainnya sudah sempat didengungkan oleh mas Pras di setiap pertemuan kami. Setiap kali mas Pras hanya mengendikkan bahunya, namun kini berbeda, dia sudah memutuskan sesuatu.

Mas Pras diam, lalu menyalakan rokok, menghisapnya dalam beberapa kali sebelum menatapku dan berkata, “kamu tahu aku menyayangi kamu, tapi aku juga sangat menyayangi ibu.” Mengambang.

“Maksud mas?” kejarku. Tanganku saling berpilin dengan gelisah menunggu penjelasannya.

“Ibu sering sakit-sakitan akhir-akhir ini. Aku akan menjadi anak murtad kalau aku sampai hati tidak melakukan permintaannya. “ Dia diam lagi.

“Mas Pras akan menikah dengan cewek pilihan ibu mas?” tanyaku dengan nada naik dibelakang ucapanku. Aku merasa tidak percaya, hubungan manis yang berjalan setahun lebih harus berakhir seperti ini.

Bagikan :