“Tolong mengerti posisiku, Dek. Aku juga tidak mau kita berakhir, tapi situasi yang mengharuskan kita berpisah.”

“Mas…” aku menatapnya tak percaya, wajahnya semakin buram oleh genangan air mataku.

“Jangan menangis, tolong aku…” mas Pras meraih tanganku, yang secara reflek kutarik , menghindar dari genggaman tangannya yang hangat. Yang kini sudah bukan menjadi hak-ku lagi.

Aku menunduk, air mata mengalir, namun tak kubiarkan isakanku terdengar. Aku bukan anak abg atau wanita muda yang penuh emosi. Aku adalah wanita matang, yang sudah pernah mengalami pahit manisnya cinta sebelumnya.

Aku meraih tissue dari dalam tasku, menyeka air mataku hingga kering.

“Aku mengerti mas. Aku menghormati keputusan mas. Mas bisa buktikan cintaku ke mas, andaikan aku yang harus menyiapkan semua keperluan pernikahan mas, aku akan sanggup lakukan.” Kataku. Menatapnya sendu, bahkan saat ini tidak ada kebencian berkobar dalam hatiku, cintaku padanya sudah menutupi semuanya.

“Aku antar kamu pulang.” Ajak mas Pras. Aku menggeleng.

“Aku belum mau pulang. Mas pulanglah duluan. Makasih atas segalanya.”Kataku, menunduk tidak berani menatapnya langsung.

Bagikan :