Mas tidak menjawab, namun bunyi langkah kakinya yang semakin menjauh, membawa cintaku pergi selamanya.

Aku hanya termangu untuk beberapa waktu. Lalu lalang orang menyadarkanku kembali, merasakan sakitnya terhempas oleh cinta.

Hp-ku berbunyi, nomer tak dikenal.

“Mbak Evita? Bridal Cantique?” suara lembut seorang wanita terdengar dari ujung sana.
“Iya, saya sendiri. Ada apa ya?”

“Saya Rara. Saya mau menanyakan tentang paket pernikahan ala jawa modern…”
Ucapanku adalah doaku.

Tidak ada yang menyangka wanita muda yang kutemui dua jam kemudian di bridal-ku adalah calon pengantin pilihan ibu mas Pras.

Seorang wanita cantik, berkulit putih bening, matanya membulat besar indah, tubuhnya tinggi semampai. Rambutnya tergerai indah , hitam mengkilat.

Aku belum pernah melihat wanita ini sebelumnya. Ini kota kecil, dimana setiap orang akan bisa mengendus apakah seseorang itu adalah penduduk lokal atau bukan.

Bagikan :