“Kenapa kamu nggak pake Paes Agung1?” tanyaku sambil menatap bibir merahnya yang tampak begitu segar, kulit lengannya yang masih terlihat ranum, kupandang tanganku sendiri yang tampak sedikit berkerut.

“Aku maunya yang modern, mbak. Acara siraman2 dan beberapa acara lainnya aku masih mau. Emang mbak Vita bisa jadi Pemaes3 juga?” jawabnya. Matanya bergerak lincah membuka-buka buku katalog-ku.

“Nggak bisa.”

“Aku mau nanti make up nya mbak Vita yang pegang dari awal siraman hingga resepsi ya.”

“Iya, nggak masalah. O ya, kamu tahu darimana tentang bridal ini Ra?” tanyaku akhirnya ketika dia menyepakati sebuah paket rias pengantin Jawa modern.

“Bude Wanidah yang nyuruh aku ke sini mbak. Untungnya Ibu Sastro juga setuju.” Jawabnya sambil melihat-lihat lagi foto koleksi baju pengantin.

“Ibu Sastro??” tanyaku sedikit berharap dugaanku salah, kepalaku sedikit menunduk berusaha menyimak sebaik mungkin jawaban Rara.

“Ibu Sastro yang pengusaha bakpia itu lho mbak.”

“Kamu apanya beliau?” hatiku mulai perih.

“Saya calon mantunya.”

Bagikan :