Sementara Paman Sam menunggu di dalam mobil, Jason berjalan sendiri memasuki pusat pertokoan itu untuk mencari salah satu toko yang menyediakan barang-barang antik. Cukup lama ia berkeliling-keliling di sana hingga ia menyadari hanya ada satu toko yang menjual barang-barang antik dari sekian banyak toko yang sudah ia jelajah. Jason pun segera berjalan memasuki toko itu.

“Selamat datang, Tuan. Silahkan dilihat barang-barang antik disini,” sapa seorang pria paruh baya. Senyumannya hangat dan terlihat bersahabat.

Jason tidak menjawab, ia malah sibuk memindai setiap sudut toko untuk mencari benda yang ia cari.

“Bisa kubantu mencari barang antik yang Tuan inginkan?” Pria paruh baya yang sepertinya adalah pemilik toko itu masih saja mengikuti langkah Jason setiap kali pemuda itu melangkah memasuki bagian toko yang lebih dalam.

“Apa toko ini menjual guci antik buatan Prancis?” Tanya Jason yang masih belum mengalihkan tatapannya dari benda-benda antik yang terpajang rapi di depannya.

“Oh, tentu saja. Maksud Tuan sepasang guci antik yang ada di sudut sana, bukan?” Pemilik toko menunjuk salah satu sudut toko yang memajang sepasang guci berukuran sedang dengan corak-corak khas negeri barat.

Mata Jason mengikuti arah tunjuk pria paruh baya itu lalu perlahan melangkahkan kakinya mendekati sepasang guci yang dimaksud.

“Apakah guci-guci ini buatan Prancis?” Tanya Jason kemudian.

Bagikan :