“Kalau begitu kau harus membeli semua barang-barang antik yang sudah kau lihat di toko ini,” bentak gadis itu tak mau kalah.

Jason mulai terlihat kesal dengan tingkah gadis itu. “Aku tidak peduli dengan ocehanmu. Yang jelas guci-guci ini adalah milikku. Kau paham?” Jason mendorong pelan gadis itu agar semakin manjauh dari sepasang guci di depannya.

“Tidak bisa, kau baru melihat guci ini hari ini, sedangkan aku sudah memesannya sejak beberapa hari yang lalu. Kau beli yang lain saja!” Gadis itu menarik Jason untuk ikut menjauh dari guci.

“Tidak, guci ini satu-satunya buatan Prancis. Kau saja yang beli barang lainnya!” Ucap Jason seraya kembali melakukan usahanya untuk menyingkirkan gadis itu dari hadapannya.

“Kau ini kan laki-laki. Sebaiknya kau mengalah pada perempuan!” Bentak gadis itu keras. Tatapan matanya tajam menatap pemuda di depannya.

“Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Guci ini adalah milikku. Hanya aku yang boleh membawanya pulang,” tukas Jason secepatnya. Ia membalas tatapan gadis di depannya itu tak kalah tajam. “Menyingkir sekarang juga!”

Keduanya sama-sama tidak mau mengalah satu sama lain. Alhasil mereka sibuk saling tarik menarik sehingga menimbulkan keributan yang semakin menjadi. Pemilik toko yang sedari tadi hanya diam memperhatikan tingkah kedua anak muda itu, kini terlihat mulai tak sabar. Dengan kasar ia mencoba melerai aksi tari menarik dan dorong mendorong itu.

Bagikan :