Gadis itu mendengus kesal lalu kembali menatap Jason dengan tajam. “Aku berani membayar tiga kali lipat,” ucapnya dengan nada tinggi tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Jason.

Jason mendelik tak percaya dengan ucapan gadis di depannya itu. “Hei, apa kau serius dengan perkataanmu barusan? Aku hanya khawatir bila kau memaksa untuk membeli guci ini, kau akan kesulitan bertahan hidup.”

Gadis itu mulai geram dengan perkataan Jason yang terkesan menghinanya. Kepalan tangannya makin mengeras tiap kali menatap sorot mata Jason yang jelas-jelas sangat merendahkannya. “Kau pikir kau hebat hanya karena kau memiliki banyak uang?” Gadis itu makin menatap sinis ke arah Jason. “Dari penampilanmu kupikir kau adalah pemuda yang berpendidikan dan tau sopan santun, ternyata semuanya hanya tipuan.”

“Kau—” kata-kata Jason tertahan. Ia mulai terpancing emosi akibat tingkah gadis di depannya itu.

“Apa kalian sudah selesai membuat keributan? Sebenarnya siapa yang jadi membeli guci ini?” Pemilik toko mulai terlihat bosan menunggu.

“Aku akan membayarnya lima kali lipat,” ucap Jason berusaha mengakhiri. Matanya masih membalas tatapan tajam gadis di depannya yang terlihat semakin terkejut, begitu pula dengan sang pemilik toko.

“Baiklah, baiklah. Lima puluh juta rupiah. Kita putuskan disini saja sebelum keributan semakin parah.” Ucap pemilik toko akhirnya. Ia berusaha mengakhiri kontak mata antara Jason dengan gadis di depannya dengan menarik pelan gadis itu untuk segera keluar dari toko.

Bagikan :