“Jason, kau sudah kembali?” Sapa Nyonya Fernando begitu melihat putranya berjalan menghampirinya.

“Ya,” jawab Jason singkat.

Nyonya Fernando mulai memeluk putranya itu erat walau Jason terlihat mulai tidak nyaman. Ia memang tidak begitu suka bila diperlakukan seperti anak kecil. Berkali-kali ia mencoba melepaskan diri dari pelukan ibunya yang semakin erat, namun Nyonya Fernando seperti enggan melepaskannya. Ia merasa sangat merindukan putranya itu.

“Ibu, aku lelah. Biarkan aku beristirahat di kamarku,” desak Jason akhirnya.

Nyonya Fernando akhirnya melepaskan pelukannya lalu menyentuh pipi putranya itu dengan kedua tangannya. Ditatapnya putra satu-satunya yang kini berada tepat di depan matanya. “Kau sudah sangat besar, tapi sikapmu masih saja tetap dingin pada Ibu.”

“Aku hanya baru pergi setahun, tapi sikap Ibu sudah sangat berlebihan. Seolah kita sudah tidak bertemu selama sepuluh tahun. Sudahlah Ibu, biarkan aku beristirahat sebentar,” jawab Jason malas. Ia memaksa nyonya Fernando untuk melepaskan sentuhan di kedua pipinya. “Aku juga membawa guci-guci untuk Ibu dari Prancis. Semoga Ibu menyukainya.”

“Astaga, guci-guci ini sangat cantik.” Nyonya Fernando terlihat kagum memandangi sepasang guci antik yang dibawa Paman Sam. “Ini akan menjadi koleksi Ibu yang paling indah.

Bagikan :