“Begini Bu Dewi, saya akan rundingkan dulu masalah ini dengan Liana anak saya ini. Dia kan masih 19 tahun, nanti saya telpon Bu Dewi ya….”

Si MC tersenyum, agak lemas, karena dia mengharapkan jawaban positif saat itu juga, karena menurut hitungan matematika dia, positif = uang.

“Bu Sis jangan khawatir lho Bu, keluarga Setiawan itu sangat baik, keluarga baik-baik juga, mereka sudah menyediakan satu rumah lagi untuk hadiah kepada besan….” MC mengeluarkan kartu As nya.

Aku membelalakkan mata. Pengen tanya sebesar apa hadiah rumah itu. Belum juga satu kata keluar dari mulut, mama sudah mendelikkan matanya, melarang aku mengeluarkan suara.

MC itu pulang setelah meninggalkan 6 nomer telepon yang bisa dihubungi! 6! Enam!! Kayak telemarketing……

Mama menatapku, mengajakku duduk disisinya. Tangannya merengkuh kepalaku dengan penuh kasih sayang.

“Ma…” aku memeluk badan kurus Mama. Sejak Papa meninggal 10 tahun yang lalu, mama menjadi single fighter bagi ke tiga anaknya. Aku – Liana Siswoyo – anak tertua, adikku Rudy masih 1 SMA dan Mega masih 2 SMP.

Mama insist agar aku menyelesaikan sekolah SMA ku, biarpun nantinya tidak bisa ke bangku kuliah, paling tidak aku bisa dapat pekerjaan yang lebih layak dan gaji yang lumayan besar.

Aku tidak pernah membantah mama, apa yang dicita-citakan mama untuk anak-anaknya masuk akal…dan mama sudah mengucurkan keringat darah untuk membiayai sekolah ketiga anaknya selama ini.

Bagikan :