Wajah kuyuh mama dan kulit kering keriputnya membuat hatiku pedih. Mama tampak jauh lebih tua dari umur aslinya.

Apakah ini jawaban doa-doaku setiap hari?

Aku ingin meringankan beban mama, melihat kedua adikku sekolah setinggi-tingginya, melihat mereka sukses, melihat mereka bertiga tertawa bahagia!

“Ma…Liana sayang mama…banget….” Aku ciumi pipi mama yang tipis. Setiap hari bangun tengah malam, membuat nasi uduk dan kue-kue untuk dijual di depan rumah kontrakan kami, mulai dari subuh hingga tengah hari, sendirian, tanpa bantuan siapapun…

Otakku mengatakan, mungkin ini adalah kesempatan mengangkat derajat keluarga….Bukan berniat untuk menguasai harta calon suamiku yang kaya, tetapi paling tidak aku memiliki akses untuk mendapatkan kesempatan yang lebih besar apabila aku mau berusaha sendiri.

Hatiku mengatakan, apakah aku akan mencintai om-om itu?

Positive thinking ku mengatakan dari kutipan buku seseorang: witing tresno jalaran saka resleting menga, artinya cinta bermula karena resleting terbuka…
Hell!

Setelah 2 jam perdebatan, sepiring pisang goreng dan tiga gelas teh manis, mama mengalah, membiarkanku untuk bertemu om-om itu satu kali.

Setelah pertemuan itu, baru aku akan menentukan apakah aku mau dijodohkan atau tidak.

Mama segera memberi kabar ke tante MC koalisi tadi…

Bagikan :