Deal!

Tiga hari kemudian pertemuan itu diatur di rumahku.

MC datang ke rumah lebih awal untuk menyaksikan hasil perjodohannya.

Aku berusaha tenang. Tapi debar jantungku membuat tanganku berkeringat dingin. Beberapa kali Mama menepis tanganku yang mengenggam erat rok katunku yang terbaik, warna hijaunya mulai memudar.

“Jangan dilecekin gitu Lia….kelihatan kusut! Bentar lagi tamunya datang….” Mama mengingatkan aku untuk kesekian kalinya. Mata mama selalu mampir ke arah rambut hitam legamku yang terurai panjang sampai punggung, memastikannya masih rapi, meneliti wajah putih mulusku tidak terdapat noda, memastikan lipstik pink tipisku masih terpoles rata di bibirku yang tipis. Sepatu ber tumit tidak begitu tinggi berwarna coklat tua mempelihatkan kaki ku yang putih bersih.

Suara mobil berhenti di luar rumah. Sebuah Alphard hitam berhenti dengan gagahnya.

Mama bergegas membuka pintu pagar besi yang setengah reyot untuk mereka.

Tampak si sopir mobil itu tergopoh-gopoh membuka pintu tengah mobil.

Seorang bapak-bapak berusia 60an memakai baju batik coklat turun. Bokapnya pasti.

Berikutnya seorang ibu-ibu berusia – sebelas duabelas – turun, nyokapnya pasti.

Bagikan :