Cahaya yang meredup

Kabut masih tebal memburamkan mata, pagi ini langit mendung seperti tak ada cahaya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.15 WIB. Suasana rumah masih sepi. Mama masih menunggu papa di rumah sakit bersama kakak perempuanku, Rasya. Aku di rumah hanya bertiga bersama Kak Fadly, Kakak sulungku, dan Alisya adikku. Memang, sejak 2 minggu lalu rumah selalu sepi, setiap anggota keluarga selalu bergantian menjaga papa di rumah sakit. Penyakit jantung papa yang kambuh lagi membuat papa di haruskan untuk dirawat di rumah sakit.

“Keisya …!” teriak Kak Fadly dari arah ruang makan.

Aku yang sedang membereskan buku pelajaran hari ini pun terpaksa menghampirinya, aku takut ada hal penting yang ingin Kak Fadly ucapkan padaku, sebab tak biasanya ia berteriak seperti ini. kak Fadly terlihat sudah sangat rapi mengenakan kemaja biru mudanya. Ia terlihat seperti ingin berpergian.

“Iya Kak?”

“Hari ini Kakak bikinin surat izin ke sekolah, tadi kakak udah titipin ke Noella. Kakak juga udah telpon Bu Resna kok” tegas kakakku.

Bagikan :