Aku terus memandang wajah Kakakku ini “Mau kemana Kak? Sampe Keisya harus izin sekolah segala”

“Bisa diem gak?!” Kak Fadly yang sedang konsentasi menyetir tiba-tiba membentakku, tak biasanya ia begini.

Bulir-bulir bening sudah terkumpul di sudut mataku, aku seperti sudah tak sanggup lagi untuk menahannya.

“Kak?” aku berbicara dengan nada lirih.

“Kei?” Kak Fadly terlihat terkejut melihat wajahku yang sudah di penuhi air mata “jangan nangis, kenapa? Udah jangan cengeng de” Kak Fadly menghapus air mata di pipiku.

Aku hanya bisa terdiam sambil terus memandang wajahnya, keheningan terjadi begitu saja. Tak ada satupun suara di dalam mobil ini, hanya terdengar suara mesin mobil yang kami kendarai dan suara kendaraan-kendaraan lain di jalanan.

***

Mama terlihat sedang menyenderkan tubuhnya pada dinding dan menutupi wajahnya, di lorong rumah sakit ini. Dari kejauhan mama tampak biasa-biasa saja, disamping mama juga terdapat kak Rasya, kakak perempuanku ini tampak pucat meski dari kejauhan. Aku dan kak Fadly segera menghampiri mama dan kak Rasya. Aku sangat merasa khawatir, aku takut sesuatu yang tak aku harapkan terjadi.

Bagikan :