“Mam?” aku memegang tangan mama dan berdiri disampingnya, aku merasakan suhu tubuh mama meningkat, “Kok badannya panas Mam?” lagi-lagi pertanyaan terlontar dari bibirku ini.

Mama perlahan membuka tangan yang menutupi wajahnya, terlihat Mama dengan mata sembab dan wajah yang pucat “Kei…” Mama meneteskan air matanya, yang memang sedari tadi sudah mengalir di wajahnya.

“Mama kenapa? oh iya, Alisya sama nenek mana?”

Mama tak menjawab pertanyaanku walaupun hanya satu kata, ia hanya menarik tanganku dan Kak Fadly ke dalam kamar tempat papa di rawat.

“Papa…” aku tak kuat menahan air mataku, aku rindu Papa. Aku kemudian mendekat ke arahnya.

Tubuh Papa terlihat sangat pucat dan lemas, kelopak matanya terlihat sangat berat untuk di buka. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi menyaksikan Papa sekarang ini.

Nutttt….

Suara alat pendeteksi kerja jantung papa yang mulai menunjukan garis lurusnya, mata Papa kini tertutup rapat, derai tangis mulai terdengar, membuat riuh ruangan ini.

Bagikan :