Papaaa.. aku hanya bisa berteriak dalam hati, hanya air mata yang mampu berbicara. Seperti sungai, air mata ini terlalu deras, aku tak bisa menahannya. Perlahan aku mulai menyadari sosok Papa kini telah pergi. Belum sempat aku melepas rindu yang begitu mencengkram ini.

Tapi, kini sosok tegas itu telah terbaring kaku tanpa daya. Bahkan aku tak percaya bahwa ini nyata. Jangan pergi Papaa..

Seolah-olah ini hanya sebuah mimpi buruk, aku tak ingin ini terjadi. Kini Papa telah meninggalkan aku, kita, kami semua. Aku tak sanggup untuk menyembunyikan perasaan sedihku ini. Bagaimana aku bisa tegar, sosok tegas ini telah membimbingku, mengajariku, menyayangiku, menjagaku, memberiku semangat, berjuang untuk kehidupanku, tak pernah lelah dengan semua yang ia lakukan untukku. Tapi, belum sempat aku membalas semuanya, kini ia telah pergi.

***

Acara pemakaman Papa sudah selesai, tetapi Mama tetap tak mau pergi dari tempat peristirahatan terakhir Papa ini. Matanya terus dibanjiri air mata yang deras, mulutnya seperti tak mampu berbicara pada dunia bahwa ia sangat amat merasa kehilangan, hingga sang matapun terpaksa terus berbicara.

Bagikan :