“Mam, ayo pulang” ajak kak Rasya sambil terus merangkul mama. kak Rasya sangat tak tega melihat mama seperti ini.

“iya Mam, ayo kita pulang. Papa udah bahagia di alam sana” tambah kak Fadly.

Aku hanya mampu menangis, mengingat sosok papa yang sering menuruti inginku ini harus terbaring sendiri di bawah tanah ini, bersama sepi yang sangat nyata.

“Mam, kalo mau nurutin keinginan hati, Rasya juga gak akan pergi dari sini. Karena Rasya gak mau kehilangan Papa, tapi Rasya harus tegar. Ingat mam kata ustadz Ahmad, bahwa kita harus mengikhlaskan kepergian siapapun, karena suatu saat, kitalah yang akan pergi” kak Rasya mencoba menguatkan Mama.

“Karena yang ada pasti tiada pada akhirnya.” tambah kak Fadly.

Mama seperti tak menghiraukannya, Mama terus menangis dan tak mau pergi dari tempat ini, tapi kak Fadly dan kak Rasya akan terus membujuk sampai mama mau meninggalkan tempat ini. Karena kita tak mau melihat Mama terus sedih dan menangis.

“Jangan nangis Mam, ada Alisya” celoteh Alisya.

Mama mengusap air matanya dan menoleh ke arah Alisya “lis… sini sayang. peluk Mama” mama terlihat sangat sedih. Aku tahu mama sangat mencintai papa, aku tak tega melihat mama merasa sedih yang begitu dahsyatnya. Mungkin ia merasa seperti kehilangan separuh jiwanya karena Cinta mama kini telah kembali pada sang penciptanya.

Bagikan :