Alisya menghampiri Mama dan memeluknya “Mama jangan nangis ya, papa kasian kalo di tangisin terus, papa gak pergi kemana-mana kok. Papa kan tinggal disini sekarang” celotehnya.

Mama hanya tersenyum membisu mendengar ucapan malaikat kecilnya itu.

“Mama dengarkan, Alisya aja ikhlas Mam” ucap kak Fadly.

Mama melirik ke arah kak Fadly, kemudian ia memegang batu nisan tempat Papa berbaring di bawahnya dengan erat, matanya terpejam, mungkin ada yang Mama sampaikan pada Papa.

“Yuk Mam!” Aku mengulurkan tanganku pada Mama.

Mama berdiri dan matanya tetap tertuju pada batu nisan Papa. Aku dan kakak-kakakku beserta adikku melangkah, mama mengikuti langkah kami. Kini kita kembali ke rumah, walaupun sekarang kita sudah tak seperti dulu. Papa kini telah pergi, selamat tinggal papa…

Cahaya yang dulu sangat terang, kini meredup. Kini mendung menghiasi langit yang dulu sangat biru. Miliyaran bulir-bulir air hujan turun membasahi bumi. Semua itu menggambarkan perasaan kami sekarang. Bagaikan tersambar petir di teriknya sinar mentari, papa kini telah pergi. Tak ada lagi sosok yang akan menjadi kepala keluarga di rumah kami. Tapi di balik kelamnya hari ini, Allah pasti akan memberi kecerian dan kebahagiaan seutuhnya di hari esok.

Bagikan :