Pintu kamar mandi kemudian terbuka, dan keluarlah kak Rasya dengan kimononya dan rambut yang terbalut handuk. Raut wajahnya sangat kusut.

“Tuh udah! Makanya jadi orang yang sabar dikit kek. Untung kakak orangnya baik!” kak Rasya berlalu

Dasar kak Rasya! Hobinya bikin orang nunggu aja!” celotehku sambil memasuki kamar mandi.

Selesai mandi, aku segera mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah, aku memakai sepatu hitam berplat putih dengan hiasan warna biru di sisinya. Sepatu cantik ini adalah hadiah ulang tahunku tahun lalu dari papa yang baru pas di kakiku sekarang. Aku kemudian membereskan buku pelajaran yang akan kubawa hari ini.

“Keisya… sarapan dulu dik!” teriak kak Fadly dari ruang makan.

Aku bergegas menuju ruang makan dan duduk di samping kak Rasya. Hari ini sangat berbeda dari hari biasanya, dulu ketika sarapan biasanya papa duduk di sebelahku, tepatnya di tempat yang sekarang kak Rasya tempati. Tapi sekarang, hanya bayang-bayang papa yang tersisa di ruangan ini.

“Kei, berangkatnya bareng kak Fadly sama kak Rasya ya”, mama memandang ke arahku, karena biasanya aku berangkat sekolah selalu di antar papa atau mama.

Bagikan :