Prologue

L’amour?”

Panggilan khas pria itu pada sesosok tubuh wanita yang kini berdiri tepat di depan jendela besar ruang kantornya. Tiba-tiba saja segalanya tampak bersinar terang di matanya, segalanya seolah keemasan oleh aura yang dihadirkan olehnya, karena sebelumnya ruang persegi itu tak ubahnya kotak kubus dengan beberapa benda suram membosankan baginya. Bahagia rasanya menyaksikan siluet indah sang wanita pujaan kini berada di sana.

“Kapan kau sampai? Mengapa tak segera menghubungiku?” Protes pria itu pada kebekuan sikap wanitanya.

Wanita itu menoleh sesaat sekedar menunjukkan respon. Bukti bahwa ia mendengar tanya kekasihnya, namun sekali lagi tubuhnya tetap tak bergeming mematung membelakangi.

Amora?” Sang pria mulai tak sabar, ketika tanya-nya tiada berbalas.

Wanita cantik itu menggerakkan sedikit kepalanya ke sisi. “Aku tiba beberapa jam yang lalu.” Jawabnya malas, masih datar seperti halnya ekspresi yang ia tampilkan saat ini.  Kembali memutar raganya menghadap pemandangan kota London. Mengamati barisan semut besi yang melintas di atas Tower bridge.

Pria itu menghampiri kekasihnya, memeluk penuh kerinduan, melingkarkan kedua lengan erat di sekeliling tubuh wanita itu. “Aku senang kau kembali lebih cepat, ku harap kau merindukanku seperti aku merindukanmu.” Bisiknya seraya menyeret lidah panasnya, menggoda.

Bagikan :