“Bagaimana mobilnya? Kau suka?” Tanya pria itu lagi, masih belum berhenti dengan tangannya yang terus meraba dan bergerilya.

“Hmm..” Jawab wanita itu singkat, setengah melenguh. “Lalu bagaimana apartmen yang kau janjikan kepadaku, ini sudah akhir minggu?” Tanya wanita cantik itu menuntut. Kali ini memutar tubuh, mengalungkan lengan di sekeliling leher sang pria dengan manja.

“Mungkin tidak minggu ini, Sayang.” Desahnya lirih. “Maaf, kita terpaksa menundanya, ku mohon mengertilah, hanya kali ini.” Pintanya mengiba, “sungguh aku sedang butuh dana yang lumayan besar untuk tender impian yang sangat ingin aku menangkan.” Beritahunya lagi.

“Semoga itu bukan alasanmku saja.” Rajuknya.

“Tentu saja tidak, Amora… tak ada yang lebih aku inginkan selain memenuhi semua impianmu,”

“Kita lihat saja nanti, ku berharap kau tak lupa untuk segera menepati janji.” Gumam wanita itu, ekspresinya seketika mencebik kecewa.

“Pasti. Percayalah padaku, aku tak pernah berdusta padamu bukan? Ini semua untukmu, Sayang..demi masa depan kita.” Janjinya penuh perasaan. Lalu membawa kedua telapak tangan besarnya untuk menggenggam pinggul wanitanya, meraupnya lebih dekat, sendu pandang matanya penuh cinta. Dan terakhir adalah cara brutalnya dalam menyingkirkan jarak di antara mereka, sang pria merunduk tajam, mempertemukan bibir mereka dalam cumbu penuh kerinduan.

Bagikan :