Chapter 1

London summer, minggu ketiga di bulan Juni. Prakiraan cuaca pada salah satu televisi lokal menyiarkan suhu telah mencapai tiga puluh empat derajat celcius. Tak heran jika panasanya sedemikian menyengat, serasa membakar jiwa-jiwa yang mengeluh akan kekuatannya, wajah-wajah mengernyit, keluh kesah terdengar di hampir tiap sudut kota London.

Sesungguhnya tak banyak yang berubah, walau ini telah masuk masa liburan musim panas, London dengan segala detak irama kota bisnis yang sibuk, terlihat masih di suasana sama, kecuali warga seisi kota yang kini berpakaian lebih terbuka di tempat-tempat umum. Menghabiskan waktu di taman, atau tempat terbuka lainnya. Kecuali dalam enam jam terakhir ini. Sebagian besar warga seolah menyerah pada situasi dan ganasnya alam. Liburan yang seharusnya menyenangkan mereka lewatkan dengan berlindung di dalam bangunan- bangunan tinggi dan nyaman rumah mereka, atau sebagian dari mereka yang masih disibukkan oleh aktifitas bekerja, memilih berada di dalam gedung ber-AC, serta sesedikit mungkin melakukan aktifitas outdoor.

Siapa yang mampu menahan angkara matahari jika memang telah tiba masanya. Toh sama seperti seluruh cipta Tuhan lainnya, sang Surya hanya tengah menjalankan perintah dan perannya sebagai bagian dari kehidupan, jika ozon sedemikian menipis dan panas semakin menyiksa, itu tak lebih dari refleksi ulah

Bagikan :