kesepian hidupnya, dan sepertinya memilih berendam lebih lama untuk menyegarkan diri, adalah bukan pilihan yang buruk saat ini.

Aleta tersenyum miris oleh ocehan di kepalanya, senyum patah tertangkap dari kaca spion di atas kepalanya, wajah itu mengejek, mengejek dirinya sendiri, dirinya yang kesepian dan terbelenggu pekerjaan tanpa sebuah harapan akan hadirnya sebuah hubungan yang patut dia banggakan. Dia lajang yang kesepian. Dan satu- satunya hasratnya adalah pekerjaan, karier yang tengah dirintisnya beberapa tahun terakhir.

Dan baiknya apa yang dia harapkan dalam hal sukses karier impiannya, itu mulai terwujud. Itu adalah harapan yang dia sebutkan dalam doanya di saat pertama kali dia datang ke kota ini. Kota impian banyak orang di belahan dunia untuk memulai jejak kaki dan memulai pengalaman hidupnya di sisni, Aleta pun menyematkan harapan itu, agar nantinya dia akan berkesempatan melukis masa depan, lalu mengubur kenangannya dalam- dalam. Kesimpulannya.. dia pikiri kariernya mulai bergerak naik dan bersinar, walau perlahan, banyak tangga yang musti dia lalui untuk benar- benar bercahaya, namun berbanding terbalik dari profesi yang dia banggakan itu, hidupnya, khususnya kehidupan percintaannya benar-benar menyedihkan. Segalanya masih datar, sedatar dan sedingin dinding-dinding rumah tua.

Aleta menghalau lamunannya menjauh, mulai menyelipkan tubuhnya ke balik kemudi, kemudian membawa Citroen Ds3 kesayangannya menuju arah barat kota London. Di sana lah dia bermukim selama beberapa tahun belakangan ini, menumpang hidup gratis pada Kakak perempuannya.

Bagikan :