Melintasi gedung-gedung tinggi kondominium, apartmen mewah dipusat-pusat kota, tak ayal Aleta melirik dengan batin iri pada mereka-mereka yang berkantong tebal, betapa mudahnya golongan itu menikamati semua fasilitas maha.

Impian Aleta sendiri cukup sederhana, dia ingin memulai kemandiriannya dengan memiliki sebuah apartmen sederhana yang berada tak jauh dari pusat kota, sehingga ia tak perlu terlambat ke kantor, memenuhi janji pekerjaan, atau merasa was-was ketika pulang terlalu larut.

Sudah seharusnya wanita karier seusianya memiliki kehidupan pribadi dan privasi. Tapi Ibu dan kakaknya berpikir sebaliknya, mereka tak pernah mengijinkan dia melaksanakan niatannya. Bagi mereka Aleta yang dua puluh enam tahun ini bahkan terlalu polos dan asing untuk menghadapi kehidupan kota seorang diri. Seharusnya mereka berkesempatan melihatnya berdiri menentang jaksa dan menuntut terdakwa dalam sidang-sidang yang dia tangani, baru setelah itu mereka boleh menghakiminya. Sekali lagi itu hanya impian, dia tak tau kapan bisa mewujudkan impian itu, karena harga properti di kawasan-kawasan strategis semakin melambung belakangan ini.

Tanpa sadar lamunan-lamunan dan kecamuk di benaknya telah mengantarkannya sampai di tujuan. Memasuki gerbang tinggi menuju garasi rumah yang tidak terlalu luas, sementara di bagian depan terdapat sebuah pos  keamanan yang membantu kakaknya mengawasi rumah dan mengamankan diri dari gangguan juga privasi.Profesi Saudarinya menuntutnya mendapatkan semua fasilitas itu. Walaupun pada kenyataannya sang Kakanya hampir tak pernah menghuni rumahnya

Bagikan :