CICAKOPHOBIA

Oleh Cherry Vhaniela

PROLOG – Coffee and Apple

Berbicara tentang pagi, aku duduk di beranda, menyesap kopi, menatap bocah-bocah berseragam merah putih yang berjalan beriringan membuat pagar di sepanjang jalan. Jika sedang sewot, aku akan meneriaki mereka, “Woy, emang jalan nenek moyang kalian.” Tapi itu jarang sekali terjadi, toh aku juga jarang keluar rumah.

Motor berlalu lalang, hanya ada satu dua mobil yang lewat, lalu selusin kerbau yang beranjak menuju surga mereka, lapangan berumput tinggi di samping area persawahan. Rumahku sebenarnya cukup strategis, dari tempatku duduk termangu, aku bisa melihat hiruk-pikuknya orang- orang di pagi hari. Ada yang mengejar ilmu – terlepas dari kenyataan mereka dipaksa sekolah-, ada yang mengejar pundi-pundi uang, dan jika lebih siang sedikit, aku bisa mendapati ibu-ibu yang berjalan beriringan, dengan gamis-gamis cantik mereka, menuju majelis terdekat, menuntut ilmu, diluar rumpian dan segala tetek bengeknya wanita.

Aku kembali menyesap kopi, bukan seperti pengusaha besar yang tengah tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Lagi pula, apa yang kumiliki untuk membuatku secongkak itu. Aku hanya menyesap kopi, karena hanya itu yang bisa kulakukan saat ini, selain menggerogoti sebuah apel yang tinggal setengah. Sarapan pagi, aku menyebutnya.

Lalu bocah itu lewat dengan seragam yang lain dari teman-temannya. Tingginya mungkin sekitar 120 cm, kulitnya hitam, tidak terlalu pekat seperti negro, tapi lebih kelam, jika kau mengerti apa yang kumaksud.

Bagikan :