Rambutnya berdiri tegak, hampir sama kelingnya seperti kulitnya. Ia mengenakan celana merah darah, sama seperti teman-temannya yang lain, tapi bajunya tidak berwarna putih, melainkan kuning, mungkin karena terlalu sering dicuci tanpa sabun.

Bocah itu menggenggam erat tali yang tergantung di bahunya, tas punggungnya yang tidak terlalu besar. Wajahnya datar, entah, tak terbaca. Tapi aku suka langkahnya yang tegap, berjalan dengan santai namun mantap. Setahuku dia sering diolok, karena kulit kelingnya?

Ya, itu salah satunya, dan sikapnya yang mereka bilang terlalu… Ah aku tidak memiliki kata yang pas untuk menggambarkannya. Tapi bagiku, itu adalah salah satu keunikan yang dimilikinya. Membuat kau merasa senang melakukan kebaikan kecil yang terkadang menurutmu sangat tidak berarti.

Ketika anak-anak kecil yang lain terlalu gengsi untuk menerima pemberian orang dewasa, entah karena Ibu mereka di rumah sudah mewanti-wanti untuk tidak segampangan itu menerima apa yang diberikan orang karena memalukan atau apapun alasan yang menurut mereka relevan, tapi bocah itu tidak. Dia akan tersenyum, memamerkan giginya yang putih, sebenarnya tidak terlalu putih, tapi kulit kelingnya membuat gigi itu seakan bersinar. Haha. Ia akan menerima yang kau berikan dengan anggukan mantap.

Seperti hari itu, ketika aku meneriakinya dari tempatku duduk termangu di beranda lantai atas. Ia menghentikan langkahnya, lalu melihat ke atas, ke tempatku berdiri. Aku melesat berlari ke bawah, menyelinap melewati dapur, dan muncul di pintu depan.

“Mau apel?” Tanyaku. Ia diam, si keling dengan mata bulat besar itu menatapku. Tidak menjawab, namun mendekat untuk mengambil apel di tanganku. Oke mungkin itu sebuah jawaban, hanya tidak terurai dari bibirnya yang juga keling.

Bagikan :