“Makasih Kak!” Ujarnya, nadanya terdengar tegas. Aku menyukainya. Kelak, kalau dia menjadi polisi, dia pasti akan menjadi aparat yang tegas dan baik. Yah…kurasa begitu. “Mbak masih jadi pengangguran yah?”

Lalu aku berbalik, membiarkan ia pergi dengan kegirangannya sendiri. Apel itu ia genggam sampai ke tikungan, lalu di sana aku bisa melihat ia diam-diam mulai menggigit apel itu.

Itu dulu, awal perkenalanku dengan si keling itu. Sekarang dia mulai dekat denganku. Teriakan kencang dari mulutnya selalu aku akhiri dengan lemparan sisa apel gigitanku.

“Masih jadi pedagang Kak? Penggangguran dalam gang?! Hahahaha.” Teriaknya seperti biasa, menyebalkan namun selalu mampu menghidupkan semangatku di pagi hari, sebelum akhirnya kelelahan karena terus ikut tertawa bersamanya.

Aku tersenyum simpul, duduk kembali menghadapi kopi dan apelku yang tinggal setengah. Masih galau karena semalam, tapi setidaknya, aku tahu Allah tidak pernah berhenti memberikan jalan, selama kita terus berdoa dan berusaha. Yah…seperti itu lah.

Bagikan :