Bab 1 – Keramat

Musik upbeat mengalun keras dari speaker laptopku, menemaniku menatap gambar-gambar acak yang kutempelkan di setiap sudut dinding kamarku, tepatnya di depan meja kayu tempatku meletakan TV layar datar dan laptopku. Aku menempelkannya secara acak, dengan sebuah gambar utama berupa foto close up wajah seorang gadis yang dikelilingi oleh kupu-kupu berwarna coklat muda. Salah satu mata gadis itu menatap tajam pada siapapun yang memandangnya, sejenak seperti tengah menatap foto hidup, keramat. Sebelah matanya lagi tertutup helaian rambut yang tergerai lembut. Bibirnya penuh, seksi. Pipi dan hidungnya memiliki bintik-bintik samar di balik warna pink merona blush on yang dikenakannya. Begitu natural dan tegas. Sosok yang selalu ingin kuhidupkan dari dalam jiwaku yang terdalam.

Di sekelilingnya terdapat foto-foto yang lebih kecil, kebanyakan gambar-gambar yang ku download dari mana pun, kata-kata penyemangat, dan sekedar gambar berwarna warni yang menurutku unik. Jauh di penghujung ‘pameran’ gambar itu, aku juga menempelkan foto riwayat hidupku bersama beberapa orang yang pernah menghiasi hari-hariku.

Foto-foto komunitas sosial yang aku ikuti, dan beberap foto kenangan KKN jaman kuliah.

Foto paling ujung yang terpajang di sana, paling besar, adalah fotoku dengan kedua sahabatku. Diambil pada masa-masa akhir kuliah, meski aku sendiri sudah lupa kapan tepatnya foto itu diambil. Mata kami terbuka, ceria, dan tanpa beban dengan senyuman mengembang lebar, seakan sama sekali tidak khawatir kepada apapun.

Bagikan :