Aku merindukan mereka, dan saat-saat itu.

Kedipan di layar ponsel pintarku mengaburkan seluruh lamunanku. Aku mengintipnya sekilas, tidak berniat buru-buru membukanya. Ketika mendengar suara ping berkali-kali barulah aku mengambil ponselku. Siapapun dia, pasti ini cukup penting karena aku sudah berkali-kali mengatakan tidak menyukai dengan nada ping pada aplikasi BBM, dan melarang siapapun untuk melakukan itu kepadaku, kecuali sangat teramat-penting.

Pesan dari Maia, salah satu teman yang berpose bersamaku di foto terakhir yang tertempel di dinding itu. Kini ia menjadi rekan bisnis fashion online ku, setelah kami berdua mulai putus asa mencari pekerjaan sejak kami menyandang gelar sarjana hingga hari ini. Sebenarnya kami menyebut ini sebagai bisnis selingan sampai menemukan pekerjaan yang pas untuk kami berdua. Kami sama-sama menyukai dunia fashion, meskipun aku tidak se-fashionable Maia, tapi aku menyukai dunia design. Sedangkan dia, jangankan mendesign, menulis saja sudah selalu menuai ejekan. Meski cantik, tapi Maia memiliki tulisan tangan yang luar biasa berantakan. Aku suka mengejeknya tidak lulus SD, dan ia akan langsung mencibir kesal sambil mencubit lenganku.

Mungkin karena terlalu lama membalas pesannya, akhirnya Maia malah langsung meneleponku.

“Molor yah lo?” Ranyanya tanpa basa-basi.

Aku menguap, menatap cangkir kopiku dengan nanar. “Kaga,” jawabku sekenanya. “Abis ngelamun aja.” Tambahku lebih asal lagi.

Dia mendengus, “Dasar.” Katanya, tidak terdengar nada marah sama sekali. Santai dan seloww…moto hidup yang selalu kuacungi jempol pada gadis fotogenik ini.

Bagikan :