Maia mendesah lelah, bosan dengan kepikunanku. “Itu, Mbak Hana yang kemarin datang diacara gathering bulanan di Mall Serang.” Tuturnya, sedikit mendesakku untuk segera mengingat. Ya mana kuingat! Aku terbiasa tertawa ramah pada siapapun, tanpa menanyakan nama mereka. Lagipula kami jarang menggunakan name tag diacara-acara seperti itu. “Yang pakai dress magenta, long cardy rajut.”

Nah itu baru aku ingat. Tapi aku tetap tidak ingat wajahnya, aku hanya ingat warna pakaiannya. “Tokonya yang mana?” Tanyaku lagi, sedikit ragu dan takut.

“Astaga lo tuh yah. Tokonya yang di samping Hotel Ledian!” Ujar Maia setengah berteriak.

Bibirku membulat membentuk huruf ‘O’ tanpa suara. Aku pernah kesana sekali, melihat-lihat koleksi dressnya yang memiliki harga lumayan. Lumayan mahal! Barang indah tapi harus membuatku merogoh kocek terlalu dalam tidak akan kumasukkan dalam ‘list must buy’, otak pengrajinku akan memilih untuk menyimpan detailnya di dalam kepalaku, lalu membuat sendiri benda itu.

“Dia suka sama desain baju yang gue ajuin, dan mau bekerja sama.” Tambahnya.

“Baik banget,” gumamku, ragu namun tidak terlalu peduli. “Pasti ada term and conditionnya kan?”

“Yah namanya juga bisnis.” Kata Maia sok. Aku mencibir.

“Atur aja deh…” Selorohku sambil menenggak kopiku lagi.

“Jangan lupa design yang gue minta kemarin! Harus udah jadi hari Rabu.”

“Kampret! Sekarang hari Selasa men!!” Keluhku kesal. Kadang gadis ini memang suka seenak jidatnya saja kalau bicara. Membuat simple semua permasalahan!

Bagikan :