“Yaelah, paling berapa jam sih bikin design satu doang,” bujuknya. “Lagian lo udah ngerti kan poin-poin yang gue jelasin kemaren?”

Aku bergumam pelan. Kalau saja Maia memiliki tangan yang lebih kooperatif, mungkin aku tidak akan mendapatkan kesempatan sebagai penerjemah ide-ide fashion yang menumpuk di kepalanya. Ah, Tuhan memang Maha Adil.

“Iye bosss…” Ujarku malas. Lalu setelah berbasa-basi ini itu, akhirnya dia menutup teleponnya. Membuatku kembali pada duniaku. Dengan malas akhirnya melanjutkan design hitam putih yang masih terpampang di layar wacom tablet milikku.

***

Aku menggerakan kepalaku ke kiri dan kanan, lalu mengangkat kedua tanganku ke atas kepala, merenggangkan selebar-lebarnya, pegal. Sudah lebih dari tiga jam aku menunduk, membuat design-design pesanan Maia. Meskipun harus ku akui 70 persen waktunya kugunakan untuk bernyanyi acak mengikuti melodi-melodi yang terdengar dari laptopku. Dua design long dress ala fashion Korea, dan satu buah design bracelet manis yang cukup ramai dengan bandul berbagai bentuk. Dipasarkan untuk anak-anak SMA dan kuliahan. Cukup menarik.

Cangkir kopiku sudah kosong, dan sejak tadi sebenarnya aku juga sibuk mengusir cicak yang berlomba-lomba masuk ke dalam cangkir kopiku. Menjijikan!

Sejak kecil aku tidak menyukai makhluk melata-lembek-transparan-menjijikan itu! Pernah sekali aku secara tidak sengaja menyentuhnya, dan aku langsung menjerit histeris. Seperti baru melihat hantu atau apapun yang pantas mendapat teriakan sekencang itu. MENJIJIKAN!

Mengingat kejadian itu hanya membuat tubuhku merinding. Hiiy.

Bagikan :