Cicak sebenarnya terbagi empat. Cicak tembok, cicak kayu, cicak gula, dan cicak batu. Sedangkan cicak yang saat ini sedang mengintip malu-malu di balik TV layar datar di mejaku, sambil menatap ke arahku dan cangkir kopiku yang sudah tandas secara bergantian itu adalah cicak gula.

Gehyra Mutilala, nama yang unik, tapi jelas berbanding tebalik dengan sosok pemilik nama latin itu. Cicak itu bertubuh lebih kecil, dengan kepala membulat dan warna kulit transparan. Hiiyy… Benar-benar menjijikan!!!!

Binatang keramat -yang tidak boleh disentuh- aku menyebutnya. Phobia ku pada cicak sudah berada ditingkat teratas. Sejak kecil aku memang sudah tidak menyukai binatang melata, lembek, dan transparan itu. Jangankan menyentuhnya, melihat kepalanya sedikit nongol saja di balik meja akan membuat wajahku meringis jijik.

“HUSHH!!!!” Aku menggebrak mejaku ketika melihat cicak itu semakin memberanikan diri untuk mendekati cangkir kosong di samping laptopku. Sibuk dengan histeria ketakutanku sendiri. “Kampreeet!! Pergiiiii!!” Teriakku. Bertepatan dengan itu, ponselku kembali bergetar. Sebuah nomor baru, namun tidak asing di mataku. Yang berarti pernah tersimpan di phone book ku, lalu dengan sengaja kuhapus.

Cicak yang tampak masih gigih dengan usahanya mendekati cangkir kopiku terdiam sejenak. Mematung, mungkin berpura-pura mati. Dia pikir aku sebodoh itu?!

Aku mendesah, sedikit lelah dan nyinyir, yang langsung ditujukan pada hewan serta penelepon keramat itu, sebelum menekan tombol yes di layar ponsel pintarku, dan mengatakan halo tanpa semangat.

Bagikan :