“Tidak perlu. Lagipula kau lihat sendiri kan, masih nyala.” Dia mengangkat ipadnya dan memamerkan layar benda itu yang terang. Ia menggedikan bahunya kearah barisan yang benar-benar sudah rapi.

“Kau akan menyesal jika masih berdiri disini sekarang. LARI….” Teriakannya yang tiba-tiba membuat aku seperti kuda yang di cambuk pemiliknya.

Aku terengah-engah dan berdiri di barisan paling belakang. Tubuhku memang 172cm, tapi aku benci berada di barisan yang terlalu belakang. Aku menoleh kea rah tempatku dan pria tadi bertabrakan, sudah tidak ada siapapun. Aku mengutuk waktu, kenapa waktu tega sekali mempertemukan aku dan Romeo-ku di saat seperti ini. Aku bahkan tidak sempat menanyakan namanya, dan aku tampak menggelikan di depannya.

Aku menghentakkan kakiku kesal. Tidak menyadari sedang berada di tengah upacara bendera.

“Beth, diem. Lo bikin kelas kita jadi pusat perhatian.” Leksa, sahabatku memperingatkan.

“O … My God, sori.” Aku menundukan kepalaku serendah mungkin menyadari ratusan pasang mata mengamati tingkah konyolku.

“Lo kenapa sih tadi?” Leksa bertanya lagi setelah kami sampai di kantin, menikmati es jeruk ditemani sepiring singkong goreng.

“Aaaaaaa….” Aku menepuk-nepuk kepalaku.

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :