Papa pernah membujuk mama agar tetap bekerja dan meninggalkanku pada babysitter dan pembantu. Bukan karena papa tidak mampu sendiri, dia hanya tidak tega merenggut kebahagiaan mama saat bekerja.

Namun mama bersikeras ingin belajar menjadi ibu rumah tangga saja. Dia kursus memasa dan melakukan banyak hal. Walaupun tetap saja keluargaku menyewa babysitter, karena memang mama dulu bahkan tidak bisa mengganti popok ku. Tapi dia tetap berusaha memberikan yang terbaik.

“Lebih mudah memenangkan hati klien daripada menenangkan Elisabeth yang sedang menangis.” Kata mama suatu ketika.

“Belum lagi minyak panas yang berkali-kali muncrat ke arahku saat belajar memasak. Hhuuwwhh … benar-benar wow. Lihat ini!” Mama menunjuk bintik-bintik kecil di tangannya. “ Kau tau, mengganti popok itu lebih sulit daripada menyiapkan bahan presentasi dalam 3 jam.” Mama berucap serius.

“Namun aku sangat menikmatinya, aku jadi lebih hidup. Dan benar-benar menjadi wanita. Terimakasih, John.” Lanjutnya memeluk papa.

Papa selalu ingat kalimat yang melucur dari bibir mama malam itu. Dia selalu menceritakan malam itu berkali-kali setiap kami sedang menunggu mama memasak.

“Lihat mamamu, Beth, dia sangat menikmati percikan minyak panas.” Papa bergidik ngeri, namun aku tau dia sebenarnya menyimpan kebanggaan. Aku tertawa.

Bagikan :