“Papa. Jangan pernah berpikir menyiramkan minyak panas kepadanya agar dia bahagia.” Aku melotot. Kami tertawa lepas.

“Apa yang kalian tertawakan? Tidak ada makan malam jika kalian menertawakanku.” Mama mengacung-ngacungkan spatula kearah kami.

“Tidak, kami tidak menertawakanmu. Kami hanya menertawakan hal aneh yang membuatmu bahagia. Dan kami sedang memikirkan untuk memberi kejutan padamu. Ha ha ha.” Papa tergelak.

“Tidak ada makan malam.” Mama memasang wajah sok serius.

“Aku akan memberikan semuanya pada Preti. Iya kan, Preti. Kau pasti menyukainya.” Mama berbicara pada kucing persiaku yang gempal. Ia terlihat cuek, tidak peduli atau tidak mengerti ucapan mama. Aku dan papa hanya tertawa.

“Oh, ayolah, Claire. Hanya kami yang menyukai masakanmu. Preti tidak.” Papa masih menyerang mama dengan candaannya.

“Baiklah. Dua lawan satu. Kalian menang.” Mama menyerahkan piring masakannya kepada kami. “Seharusnya aku melahirkan satu anak lelaki lagi agar bisa membelaku.” Mama pura-pura marah dan menyuap makanannya.

“Baiklah, kita bikin satu lagi nanti malam.” Ucap papa sensual menggoda mama. Mukaku memerah, orang tuaku memang agak frontal. Walaupun kami tinggal di Negara yang sarat dengan budaya ketimurannya, namun orang tuaku berpikiran terbuka dan bebas.

Bagikan :