Karena memang mereka berdua sama-sama berdarah barat, dan menghabiskan sekolah dan kuliahnya Amerika.

“Kau mau kan punya adik lagi, Elisabeth?” Papa menatapku dengan tatapan “ayo kita buat mamamu mati kutu saat ini”

“Ya, aku sangat menginginkannya. Kalau perlu sekarang kalian lakukanlah di sini sekarang. Aku akan keluar membawa bibi Narni dan pak Dodo. Kalian bisa menggunakan rumah ini semau kalian.” Aku dan papa tergelak melihat mama yang benar-benar mati kutu.

Aku tersenyum mengenang kelakuan konyol kami. Wanita terhebat bagiku adalah mama. Jarang ada yang mau meninggalkan meja kantornya demi terciprat minyak panas seperti mamaku. Meninggalkan rok mini dan blazer, serta mengganti mereka dengan baju rumahan yang glewer dan ditutupi celemek.

“Elisabeth Marie Renae. Habiskan makananmu. Kalau tidak kau akan terlambat.” Mama menyadarkanku dari lamunanku. Aku tersenyum dan mengangguk pada idolaku. Kami hanya berempat di rumah. Aku, mama, bi Narni dan pak Dodo. Papa sedang ada perjalanan bisnis ke Australia.

“Yuk berangkat, Ma. Udah telat, nih.” Aku berdiri masih dengan mulut penuh dan segelas susu putih di tanganku.

“Minum susumu. Siapa suruh makan sambil ngelamun.” Mama duduk di balik kemudi. Aku menghabiskan susuku dan menaruh gelasnya di lantai depan. Mama hanya menggeleng melihat kelakuanku.

Bagikan :