Selama 16-an tahun ini dia selalu menikmati membereskan rumah yang berantakan oleh papaku awalnya, lalu aku membantu [membuat berantakan] setelah beberapa lama.

Butuh lebih dari kesabaran dan niat untuk mengurusku dan papa. “Hanya CINTA yang membuat mama bisa” katanya suatu ketika. Dan itu membuatku semakin menggila dengan fantasiku tentang cinta, tentang kehidupanku nantinya.

Mama melajukan mobilnya membelah kota. Membawaku menuju SMA Regina Pacis yang letaknya jauh dari rumahku.

“Dah, Ma. See ya. I love you.” Aku keluar dari honda civic hitam milik mama setelah mencium pipi kiri, kanan dan terakhir bibirnya. Itu ritual kami.

Aku berlari tergesa-gesa menuju barisan paling ujung di pojok lapangan. Barisan kelas 12 IPA 1. Hingga tidak sempat melihat bahwa ada orang di jalanku.

Aku yang berlari seperti kesetanan berhasil membuat orang itu kehilangan keseimbangan.

“Aaaaa …” pekiknya.

Matanya membelalak melihat layar ipad keluaran terbarunya retak.

“Maaf.” Aku menunduk hendak memungut gadgednya. “aku sedang buru-buru dan tidak melihatmu. Aku…”

Bagikan :