Bagian Dua

Hari ini hari Rabu. Aku berangkat lebih pagi. Sesuai jadwal yang telah dibuat dan disepakati, hari ini aku piket. Sekolah masih sangat sepi. Sedangkan di kelas aku hanya sendirian. Di meja paling belakang ku lihat sebuah tas junglesurf berwarna hitam. Pasti udah ada yang datang.

Setelah meletakkan tas, aku mengambil sapu dan mulai menyapu kelas. Ketika aku baru menyapu beberapa petak lantai, kulihat seorang cowok masuk kelas dengan membawa buku tulis dan air mineral. Pasti dia pemilik tas yang ngejogrog di meja paling belakang itu.

Aku hampir selesai menyapu. Aku mengambil pengki dan menyapukan sampah ke pengki itu untuk kemudian dibuang ke tempat sampah yang terletak di teras kelasku.

Ketika aku sampai di depan pintu, aku bertabrakan dengan seseorang. Aku hampir terjatuh dan sampah di dalam pengki berserakan. Mulutku sudah siap memaki orang yang menabrakku. Namun aku mengurungkan niatku saat melihat wajah cowok itu.

“Sorry, sorry. Gue nggak sengaja.” Kata Sammy buru-buru.

“Nggak papa kok.” Sahutku sok manis. Untung aku belum sampai memaki cowok ini.

“Hmm… gara-gara gue, sampahnya berantakan lagi. Gue bersihin deh.” Sammy meraih sapu yang ku genggam.

“Udah nggak usah. Biar gue aja yang bersihin.” Tolakku.

“Sampah ini berantakan kan gara-gara gue. Lagian elo udah capek nyapu, masa mau nyapu lagi?”

Bagikan :