“Iyadeh, lo maksa siih…” Kataku akhirnya.

Sammy menyapu sampah yang berserakan itu lalu mengumpulkannya ke pengki. Ternyata selain tampan wajahnya, cowok ini juga baik. Tuh, liat aja. Walaupun ini kecelakaan dan sama-sama nggak sengaja-walau sebenarnya Sammy bisa saja menyalahkanku-dia masih mau tanggung jawab.

“Nah, udah selesai.” Ujar Sammy.

“Thank you.” Kataku senang.

“Nggak usah makasih, anggap aja gue nebus kesalahan gue.”

“Eh!! Elo yang piket!!! Gimana sih kalo nyapu?! Masih kotor nih meja gue!” Tiba-tiba seseorang berteriak memakiku.

Aku menoleh. Ternyata cowok yang memakiku adalah cowok yang duduk di bangku paling belakang. Sialan tuh cowok! Ganggu kesenangan orang aja! Lagi asik ngobrol sama Sammy juga! Sementara Sammy melangkah menuju tempat duduknya yang ternyata di sebelah cowok resek itu.

“Masa bodo! Yang penting udah gue sapu!” Kataku cuek.

“Nggak bisa! Pokoknya lo harus bersihin kolong meja gue! Ini kan tanggung jawab elo!” Teriak cowok itu ngotot.

Dengan hati yang dongkol banget, ku hampiri tempat duduk cowok itu. Ternyata ada banyak potongan kertas kecil. Aku heran sendiri melihatnya.

“Tadi perasaan nggak ada deh. Ini pasti kerjaan lo kan? Kaya anak kecil aja suka nyobek-nyobek kertas!” Gerutuku kesal.

“Masa bodo! Itu kan cuma perasaan lo aja. Nyatanya kolong meja gue kotor.” Ujar cowok itu cuek.

Bagikan :