Doni tersenyum nyengir ke arahku. “Sepertinya kau harus menunggu dulu, Manekin. Kami lapar, mau istirahat siang.”

Apa? Jangan tinggalkan aku dengan syal ini saja. Aku bisa kedinginan.

Salah satu kebiasaan manusia yang kuanggap aneh. Rasa lapar. Kenapa mereka perlu makan? Menurutku, itu cukup merepotkan.

Ketika butik sudah sepi, aku berjalan mengendap-endap ke arah rak baju di bagian sayap kiri. Mengambil dengan sekenanya dan memakainya sesegera mungkin. Lalu syal dari Doni kulilitkan di leher.

Sambil berjinjit, aku kembali ke posisi awalku di depan etalase. Bergaya senatural mungkin seperti layaknya manekin. Menunggu para karyawan butik itu balik.

“Hei, lihat! Manekin ini sungguh cantik,” bisik seorang gadis remaja kepada teman-temannya sambil menunjuk ke arahku.

“Iya benar, belum pernah aku melihat patung dengan paras bak dewi kayangan,” aku temannya sambil memandangku kagum.

“Aku suka gaunnya, so chic and girly!” gumam temannya yang lain.  “Dia jadi kelihatan seperti gadis rapuh yang sedang menantikan kekasihnya.”

Gadis-gadis itu kemudian melanjutkan jalan-jalannya sambil terus berbisik-bisik. Aku jadi mengkhayalkan keanehan manusia yang lain. Berbisik sambil cekikikan. Apakah itu sangat menyenangkan?

“Hei, siapa yang sudah memakaikan baju ke manekin ini?” tanya Doni tiba-tiba di dekatku. Ternyata mereka sudah kembali dari istirahat makan siangnya.

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :