Terima kasih untuk keahlian tangan seorang pengusaha mainan yang telah mencetakku dengan penuh detil dan kehati-hatian hingga aku terbentuk. Dari sanalah asal-usulku tercipta. Dari sanalah takdirku bermula. Sebagai manekin.

Oh ya, akulah satu-satunya yang mengerti manusia di duniaku. Tidak ada manekin lain yang bisa kujadikan teman. Kemampuan mempelajari segala sesuatunya kudapat dengan cepat berkat adanya pemahaman akan sesuatu yang datangnya entah darimana. Manusia menyebutnya dengan istilah intuisi. Kira-kira seperti itu.

Sungguh sangat mengesalkan menjadi tokoh yang hanya bisa memandang orang yang disukainya tanpa pernah sedikitpun dipandang olehnya. Sayangnya, aku belum tahu cara untuk mengubah hal ini. Cara untuk mendapat perhatiannya.

Aku menginginkan dia mengisi hatiku yang sepi ini. Aku ingin dia peduli padaku. Walau dia tak bisa mendengar suara teriakanku, walau dia tak bisa membalas rasaku, aku ingin pandangannya selalu tertuju padaku. Bahwa aku ini nyata. Aku ini ada di depannya. Merindukannya. Mencintainya.

Cinta tak terbalas tidak boleh terjadi dalam ceritaku. Aku lebih suka akhir yang bahagia. Walau tidak seperti cerita cinta lainnya yang normal, aku percaya cintaku tidak biasa-biasa saja.

Jadi, sudikah kalian mendengar kisahku? Kumohon….

Bagikan :